Sampah BMG muncul sebagai konsekuensi dari aktivitas pembangunan dan industri yang tidak dibarengi dengan sistem pengelolaan limbah yang memadai. Limbah ini kerap dibuang sembarangan, menumpuk di sekitar pemukiman, lahan kosong, bahkan mencemari sungai dan sumber air. Dalam jangka pendek, dampaknya mungkin belum terasa secara menyeluruh. Namun dalam jangka panjang, sampah BMG adalah bom waktu lingkungan yang dapat meledak kapan saja dalam bentuk pencemaran, kerusakan ekosistem, hingga ancaman kesehatan masyarakat.
Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling merasakan dampak langsung dari persoalan ini. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering berperan sebagai pengelola rumah tangga, pengelola air bersih, serta penjaga kesehatan keluarga. Ketika lingkungan tercemar oleh sampah BMG, beban perempuan bertambah. Air bersih sulit diperoleh, penyakit meningkat, dan biaya kesehatan keluarga pun membengkak. Ironisnya, suara perempuan dalam pengambilan kebijakan terkait pembangunan dan pengelolaan lingkungan masih sangat minim didengar.
Realitas ini menunjukkan bahwa pembangunan yang berlangsung saat ini belum sepenuhnya berkeadilan. Pembangunan yang mengabaikan dampak lingkungan pada akhirnya akan menciptakan ketimpangan baru. Keuntungan ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir pihak, sementara kerugian ekologis harus ditanggung oleh masyarakat luas. Sampah BMG menjadi simbol dari kegagalan negara dan pelaku usaha dalam menjalankan tanggung jawab lingkungan secara serius dan berkelanjutan.
Koalisi Perempuan Indonesia memandang bahwa persoalan sampah BMG tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan teknis semata. Diperlukan perubahan cara pandang dalam merencanakan pembangunan. Pembangunan harus berangkat dari prinsip keadilan ekologis, partisipasi masyarakat, serta perlindungan terhadap kelompok rentan. Negara wajib memastikan adanya regulasi yang tegas, pengawasan yang ketat, serta sanksi yang jelas bagi pihak-pihak yang lalai dalam mengelola limbah.
Selain itu, pelibatan masyarakat, khususnya perempuan, dalam proses pengambilan keputusan menjadi hal yang mutlak. Pengalaman dan pengetahuan perempuan di tingkat komunitas adalah modal penting dalam menjaga lingkungan. Ketika perempuan dilibatkan, kebijakan yang dihasilkan akan lebih peka terhadap kebutuhan nyata di lapangan dan lebih berorientasi pada keberlanjutan.
Sampah BMG adalah pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi semata. Jika lingkungan rusak dan kesehatan masyarakat terancam, maka pembangunan tersebut telah kehilangan maknanya. Sudah saatnya kita berhenti menutup mata terhadap ancaman ini. Menyelamatkan lingkungan berarti menyelamatkan kehidupan, hari ini dan di masa depan.
Koalisi Perempuan Indonesia menyerukan kepada pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat untuk bertanggung jawab atas dampak pembangunan yang terjadi. Pengelolaan sampah BMG harus menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap kebijakan. Tanpa langkah nyata dan komitmen bersama, sampah BMG akan terus menjadi bukti nyata bahwa pembangunan kita masih mengorbankan lingkungan dan hak hidup masyarakat.












