Menerapkan komunikasi asertif dalam konflik di kantor memungkinkan Anda untuk menyampaikan apa yang perlu dikatakan tanpa menciptakan suasana yang defensif atau konfrontatif. Ini membangun rasa hormat dan kesetaraan dalam percakapan, dan membuka peluang untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan. Ingat, tujuan komunikasi asertif bukan untuk “memenangkan” argumen, tetapi untuk menyampaikan kebutuhan Anda dan mencari solusi bersama yang mengakomodasi kepentingan semua pihak. Dengan menguasai komunikasi asertif, Anda akan lebih percaya diri dalam menghadapi konflik di kantor dan membangun hubungan kerja yang lebih sehat.
4. Cari Solusi Bersama, Fokus pada Kepentingan, Bukan Posisi
Setelah komunikasi asertif terjalin dalam konflik di kantor, langkah selanjutnya adalah mengarahkan percakapan ke arah pencarian solusi. Fokuslah pada kepentingan yang mendasari setiap posisi, bukan hanya pada posisi atau tuntutan yang diajukan. Perbedaan antara posisi dan kepentingan sangat penting dalam resolusi konflik. Posisi adalah apa yang dikatakan seseorang bahwa mereka inginkan, seringkali berupa solusi spesifik atau tuntutan. Kepentingan adalah kebutuhan, nilai, keinginan, atau kekhawatiran yang mendasari posisi tersebut.
Sebagai contoh dalam konflik di kantor:
* Posisi: “Saya ingin ruangan kantor yang lebih besar!”
* Kepentingan: “Saya membutuhkan ruang kerja yang lebih tenang dan terorganisir agar saya bisa lebih fokus dan produktif.”
Dalam contoh ini, posisi adalah keinginan untuk ruangan kantor yang lebih besar. Namun, kepentingan yang lebih dalam adalah kebutuhan akan lingkungan kerja yang kondusif untuk fokus dan produktivitas. Mungkin ada solusi lain yang dapat memenuhi kepentingan ini tanpa harus memberikan ruangan kantor yang lebih besar, misalnya: memasang peredam suara di ruangan saat ini, memberikan headphone peredam bising, atau mengatur ulang tata letak kantor untuk menciptakan area yang lebih tenang.
Dalam menyelesaikan konflik di kantor, berfokus pada kepentingan, bukan posisi, membuka ruang untuk kreativitas dan fleksibilitas dalam mencari solusi. Berikut adalah beberapa tips untuk melakukan ini:
Identifikasi kepentingan masing-masing pihak. Tanyakan “Mengapa ini penting bagi Anda?” atau “Apa yang Anda harapkan tercapai dari solusi ini?”. Gali lebih dalam dari sekadar tuntutan permukaan.
Cari kepentingan bersama. Seringkali, meskipun posisi tampak bertentangan, ada kepentingan bersama yang dapat menjadi dasar untuk membangun solusi. Misalnya, dalam konflik di kantor, kepentingan bersama bisa berupa “menciptakan lingkungan kerja yang produktif”, “mempertahankan hubungan kerja yang baik”, atau “mencapai tujuan tim”.
Brainstorming solusi yang memenuhi kepentingan semua pihak. Setelah kepentingan teridentifikasi, ajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam mencari berbagai kemungkinan solusi. Jangan batasi diri pada solusi yang sudah ada, beranilah untuk berpikir out of the box.
Evaluasi solusi berdasarkan kepentingan, bukan posisi. Ketika mengevaluasi solusi yang diusulkan, tanyakan “Apakah solusi ini memenuhi kepentingan kita semua?”. Pilih solusi yang paling efektif dalam memenuhi kepentingan bersama dan kepentingan individu.
Dengan bergeser dari fokus pada posisi ke kepentingan dalam konflik di kantor, Anda akan menemukan bahwa seringkali ada lebih banyak ruang untuk kompromi dan kolaborasi daripada yang Anda kira. Pencarian solusi menjadi lebih konstruktif dan berorientasi pada hasil yang saling menguntungkan, bukan sekadar adu argumentasi untuk mempertahankan posisi masing-masing.












