LOMBOK BARAT – Suasana tenang di kawasan wisata Jalan Raya Senggigi, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, mendadak mencekam pada Minggu dini hari (4/1/2026). Sebuah kecelakaan lalu lintas hebat yang melibatkan dua unit kendaraan roda empat, yakni Honda HR-V dan sebuah minibus, terjadi dalam insiden yang dikenal dengan istilah “adu jangkrik”.
Benturan keras ini menyebabkan kerusakan parah pada bagian depan kedua kendaraan. Namun, situasi paling kritis dialami oleh pengemudi minibus yang terperangkap di dalam kabin kendaraan yang ringsek. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena petugas harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa korban yang terjepit di antara himpitan logam.
Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar pukul 03.00 WITA. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, kecelakaan bermula saat mobil Honda HR-V dengan nomor polisi DR 1020 BL melaju cukup kencang dari arah utara (Senggigi) menuju selatan (Mataram). Saat melintasi salah satu tikungan tajam yang menjadi ciri khas jalur pantai ini, dari arah berlawanan muncul sebuah minibus dengan nomor polisi DR 1850 CP.
Karena jarak yang sudah terlalu dekat dan kecepatan yang cukup tinggi, kedua pengemudi tidak sempat melakukan pengereman maksimal. Tabrakan frontal pun tak terelakkan. Suara dentuman keras akibat benturan tersebut bahkan sempat membangunkan warga sekitar yang kemudian berhamburan keluar untuk memberikan pertolongan pertama.
Dalam insiden tersebut, empat orang penumpang di dalam mobil Honda HR-V dilaporkan selamat tanpa luka serius. Namun, nasib malang menimpa sopir minibus yang identitasnya masih dalam pendataan petugas. Bagian depan minibus yang hancur membuat kemudi dan dasbor menekan tubuh sopir hingga ia tidak bisa bergerak.
Mendapat laporan dari warga terkait adanya korban yang terjebak, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran (Damkar) Batu Layar langsung bergerak cepat. Tim rescue tiba di lokasi tak lama setelah menerima panggilan darurat untuk segera melakukan tindakan penyelamatan (life saving).
Kepala UPT Damkar Batu Layar, Ida Bagus Ketut Mantre, menjelaskan bahwa fokus utama personelnya adalah mengeluarkan korban dari kabin yang hancur tanpa memperparah luka yang sudah dialami korban.
“Begitu anggota sampai di lokasi, kami menemukan satu orang korban yang terjebak di dalam kendaraan minibus. Fokus utama kami adalah melakukan penyelamatan terhadap korban tersebut secepat mungkin karena ia mengeluhkan sakit luar biasa pada bagian kakinya,” ujar Ida Bagus Ketut Mantre saat memberikan keterangan resmi di lokasi kejadian.
Proses evakuasi ini memakan waktu sekitar 30 hingga 40 menit. Tantangan terbesar yang dihadapi petugas adalah posisi kaki korban yang terkunci oleh pergeseran mesin dan dasbor ke dalam kabin. Mengingat keterbatasan peralatan berat khusus pemotong logam (hydraulic rescue tools), petugas harus memutar otak menggunakan alat seadanya.
Meski tidak didukung oleh peralatan modern, tim Damkar Batu Layar tidak patah arang. Mereka memanfaatkan tali rescue yang biasanya digunakan untuk operasi di sumur dan bantuan tenaga dari warga setempat untuk menarik bagian badan mobil yang menghimpit korban.
“Waktu evakuasi memakan waktu cukup lama karena posisi korban cukup sulit. Kesulitannya memang karena keterbatasan peralatan yang kami miliki, namun kami memaksimalkan sarana penyelamatan yang ada, salah satunya menggunakan tali. Alhamdulillah, dengan kerja keras tim dan bantuan warga, korban akhirnya bisa dievakuasi keluar,” tambah Ida Bagus.












