MATARAM, NTB – Situasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat memanas pada Sabtu (30/8/2025), ketika sebuah aksi demonstrasi berakhir tragis dengan terbakarnya gedung wakil rakyat tersebut. Api melahap habis bangunan DPRD NTB di Jalan Udayana, Kota Mataram, setelah ribuan massa merangsek masuk dan melakukan aksi perusakan. Insiden ini tidak hanya menyisakan kerugian materi, tetapi juga menimbulkan korban luka di kalangan warga.
Detik-Detik Kericuhan dan Insiden Lemparan Batu
Aksi demonstrasi yang seharusnya menjadi wadah penyampaian aspirasi, justru berujung pada kekerasan. Saat massa merangsek masuk, suasana berubah menjadi mencekam. Di tengah kericuhan tersebut, sebuah insiden nahas menimpa seorang warga yang sedang menonton jalannya aksi. Seorang perempuan bernama Mira menjadi korban lemparan batu yang mengenai kepalanya.
Mira, yang saat itu sedang bersiap pulang, tak menyangka akan menjadi korban dari situasi yang tak terkendali. Ia menjelaskan, “Saat sedang beranjak pulang usai menonton aksi unjuk rasa itu, tiba-tiba ada lemparan batu dari arah barat mengenai kepala saya hingga luka sobek.”
Beruntung bagi Mira, ia segera mendapat pertolongan dari tim medis Satuan Brimob Polda NTB yang siaga di lokasi. Dengan sigap, tim medis memberikan penanganan pertama pada luka sobek di kepalanya. Kesigapan Brimob dalam memberikan pertolongan medis menunjukkan komitmen mereka tidak hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam mengayomi dan melindungi masyarakat, bahkan di tengah situasi yang genting.
Kesigapan Tim Medis Brimob NTB dan Ucapan Terima Kasih
Kehadiran tim medis Brimob di lokasi unjuk rasa terbukti sangat vital. Tanpa mereka, korban luka bisa saja tidak mendapatkan penanganan cepat, yang berpotensi memperburuk kondisi. Mira sendiri mengungkapkan rasa syukurnya atas pertolongan yang ia terima.
“Syukurnya ada petugas dari Satuan Brimob Polda NTB yang membantu mengobati kepala saya,” ucap Mira dengan nada lega. “Saya ucapkan terima kasih banyak,” tambahnya, menunjukkan betapa berharganya pertolongan yang ia dapatkan.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa di balik tugas utama menjaga keamanan, personel kepolisian juga memiliki peran humanis yang sangat penting. Mereka dilatih untuk sigap dalam berbagai kondisi, termasuk memberikan bantuan medis darurat di lapangan. Peran ini seringkali luput dari perhatian, namun sangat krusial dalam situasi krisis.
Peristiwa ini juga menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, baik masyarakat maupun aparat. Penyampaian aspirasi harus dilakukan dengan cara yang damai dan tidak merusak fasilitas publik. Di sisi lain, aparat keamanan juga dituntut untuk terus meningkatkan profesionalisme dan pendekatan humanis dalam setiap penanganan massa.
Kejadian ini menunjukkan bahwa meski dalam situasi ricuh, semangat pelayanan dan kemanusiaan tidak boleh padam. Aksi heroik tim medis Brimob yang menolong seorang warga di tengah kekacauan menjadi sorotan, menegaskan bahwa kehadiran Polri adalah untuk melayani dan melindungi, bukan hanya dalam tugas rutin, tetapi juga dalam situasi darurat.