Mataram, NTB – Di era informasi yang serba cepat ini, peran wartawan semakin krusial. Mereka bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga penjaga kebenaran dan penentu masa depan bangsa.
“Wartawan memiliki kebebasan untuk menulis berdasarkan fakta dan realitas yang mereka saksikan,” ujar Anang (jurnalis )
“Namun, kebebasan ini tidak boleh disalahartikan. Setiap berita yang ditulis harus melalui proses verifikasi dan konfirmasi yang ketat untuk memastikan kebenarannya.”
Tugas mulia wartawan ini membawa mereka bertemu dengan berbagai kalangan masyarakat, dari tukang ojek hingga pejabat tinggi. Setiap interaksi ini membuka wawasan baru dan memberikan mereka bahan baku untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.
Informasi yang disajikan oleh wartawan tidak selalu diterima dengan baik. Kritik dan cacian kerap kali menjadi konsekuensi dari profesi ini. Namun, wartawan sejati tidak gentar. Mereka tetap teguh pada komitmennya untuk menyampaikan kebenaran kepada publik.
Menjadi wartawan bukan berarti tanpa risiko. Ancaman terhadap keselamatan mereka, baik fisik maupun psikis, selalu mengintai. Namun, dedikasi dan keberanian mereka untuk memperjuangkan kebenaran tidak pernah padam.
Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran wartawan. Melalui pemberitaan mereka, semangat perjuangan rakyat Indonesia tersalurkan ke seluruh penjuru dunia.
Negara ini membutuhkan pers yang bebas dan profesional. Wartawan yang kritis dan berani menjadi pilar penting dalam membangun demokrasi yang sehat dan mewujudkan kemajuan bangsa.
“Oleh karena itu, marilah kita hargai kerja keras para wartawan dalam mencari dan menyebarkan informasi,” ajak Anang. “Ingatlah, Pasal 18 ayat (1) UU Pers menegaskan bahwa menghalangi kerja wartawan dalam menjalankan tugasnya dapat diancam pidana.”
Wartawan bukan musuh. Mereka adalah kawan yang membantu kita memahami dunia di sekitar kita. Marilah kita dukung mereka dalam menjalankan tugas mulia ini demi masa depan bangsa yang lebih cerah.