Alhamdulilah! Pembangunan Huntap Capai 50 Persen, Kepala Balai Akui Loli Bermasalah? Begini Penjelasannya

0
8

PALU – Progress pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi penyintas dampak bencana gempa dan tsunami 2018 lalu, di Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala), mencapai 50 persen.

Demikian disampaikan Kepala Balai Pelaksana Penyiapan Perumahan (BP2P) Sulawesi II, Suko Wiyono, saat ditemui sejumlah wartawan di ruang kerjanya, di Palu, Jumat kemarin (6/3).

Bahkan, Balai Perumahan terus menggenjot pelaksana (PT Waskita), segera selesaikan proyek Huntap ini, agar batas kontrak Juli 2021 mendatang bisa rampung.

“Untuk saat ini total Progress 50 persen,” ungkap Suko Wiyono, kepada sejumlah wartawan terhimpun di Persatuan Wartawan/Jurnalis (Pena) Sulteng.

Suko Wiyono mengatakan, terhambatnya pekerjaan akibat beberapa permasalahan. Diantaranya soal penyedian lahan, data Warga Terdampak Bencana (WTP), tenaga kerja ,dan Spesifikasi material didatangkan dari luarĀ  Palu.

“Seperti contoh di wilayah Loli (Donggala), lahan ada tapi masih kurang, dan tidak memenuhi kriteria kita, sehingga lahannya harus diperbaiki lagi,” ungkapnya lagi.

Diketahui, keterlambatan pelaksanaan pembangunan tahap 1B Hunian Tetap (Huntap) bagi penyintas bencana di
wilayah Sulawesi Tengah, kembali menuai sorotan publik.

Pembangunan Huntap 1B, dianggap lamban, sehingga mengakibatkan ribuan penyintas bencana di Sulteng dalam penantian di Hunian Sementara (Huntara).

Sebelumnya, Kementerian PUPR, melalui Ditjen perumahan, kembali melanjutkan pembangunan huntap tahap 1B sebanyak 1.005 unit, untuk penyintas bencana di Kota Palu, Sigi dan Donggala Sulteng.

Adapun anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan huntap tahap 1B, sebesar Rp 110 miliar atau tepatnya Rp 110,07 miliar.

Penyintas bencana Kota Palu, Sigi dan Donggala, adalah target utama pembangunan Huntap 1B tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Wilayah Sulawesi II Suko Wiyono meminta kepada seluruh pihak untuk bersabar atas penyelesaian pembangunan huntap 1B tersebut.

“Kemudian, data WTP, katakanlah dari SK Pemda/Pemkot jumlahnya ditetapkan 500 orang. Namun setelah diklarifikasi atau validasi kembali ternyata mereka sebagian sudah mendapatkan bantuan Stimulan dll, maka tentunya jumlah yang ditetapkan berkurang.

Kemudian, terkait mobilitas tenaga kerja, pelaksana inginnya mendatangkan tenaga kerja dari luar sesuai ketrampilan kerja, tapi karena situasi pandemi Covid 19 tentunya ada pembatasan.

Selain itu, ada juga beberapa spesifikasi material yang dipakai juga adanya diluar Palu,” terang Suki Wiyono.

Suki Wiyono juga mengakui jika untuk huntap di beberapa Desa di Kabupaten Sigi baru saja dimulai, karena sebelumnya juga terbentur keterlambatan penyedian lahan.

“Untuk Sigi, Desa Salua sudah kita mulai saat ini sudah penggalian pondasi,” sebutnya.

Suki Wiyono pun sangat optimis jika pelaksanaan pembangunan huntap 1B, 1.005 unit tersebut dapat terlaksana dengan baik hingga batas waktu karena beberapa masalah penyedian lahan telah selesai.

“Penyedian lahan Palu dan Sigi sudah clear, kecuali Desa Loli Donggala,” tutupnya.

Diketahui, pasca peristiwa bencana gempabumi, Tsunami dan Likuefaksi yang terjadi di Kota Palu Sulawesi Tengah 2018 silam, Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Direktorat Jenderal (Ditjen) Perumahan terus melakukan pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi masyarakat penyintas bencana di Sulteng.

Pada tahun 2020 lalu, Kementerian PUPR telah memulai dan menyelesaikan pembangunan Huntap tahap 1A sebanyak 630 unit di Duyu, Kota Palu dan Pombewe, Kabupaten Sigi.***

Tim Pena Sulteng

LEAVE A REPLY