Prihatin Kondisi Ruas Jalan Nasional di Desa Lingadan, Siapa Bertanggungjawab?

0
7

TOLITOLI – Burhan salah seorang warga di Tolitoli, Sulteng, mewakili warga lainya di Desa Lingadan, Kecamatan Dakopamean, mengeluh soal kondisi ruas jalan nasional di wilayah itu.

Bahkan, Burhan, kepada sejumlah wartawan terhimpun di Persatuan Wartawan/Jurnalis (Pena Sulteng), mengatakan kondisi ruas jalan nasional itu semakin parah akibat hujan dan lumpur aktivitas tambak udang.

“Kondisi jalan ini sangat memprihatikan rawan kecelakaan pak, jalannya becek, semoga mendapat perhatian pihak balai jalan,” ungkap pria mengaku asli kelahiran Tolitoli itu.

Dia mengatakan, seharusnya pihak Satker BPJN wilayah satu juga memperhatikan aktivitas tambak udang disini, sehingga mereka tidak semuanya merusak ruas jalan nasional.

“Ada tambak udang itu pak, tapi pihak Satker BPJN cuma diam saja,” ungkapnya lagi.

Sekadar diketahui, ruas jalan nasional melintasi daerah Tolitoli-Buol, Sulteng, tepatnya di Desa Lingadan, kecamatan Dakopamean, menuai sorotan dari warga setempat.

Pasalnya, kondisi ruas jalan nasional itu sampai saat ini, Kamis, (25/2), belum diperbaiki pihak BPJN Palu, melalui Satuan Kerja (Satker) wilayah satu.

Bahkan, pihak Satker BPJN wilayah satu dituding melakukan pembiaran terhadap aktivitas penambak udang di wilayah itu.

Menanggapi laporan itu, Kepala Satuan Kerja PJN Wilayah I Sulawesi tengah, Dr Andri Irfan Rifai, dikonfirmasi media JurnalFokus.com, melalui pesan WhatsApp, Kamis, (25/2), mengakui bahwa kondisi ruas jalan nasional itu rusak akibat aktivitas tambak udang.

“Sudah betul, bahwa itu akibat tambak udang,” ungkap Irfan.

Kata dia, pihaknya sudah melakukan teguran lisan Selasa lalu (23/2), bahkan tim tambak udang berjanji membersihkannya.

“Setelah ini kami pun akan meluncurkan teguran resmi kepada pelaksana pekerjaan tambak udang,” ungkapnya lagi.

Menurutnya, sebagai bahan klarifikasi pihaknya mendorong berbagai elemen termasuk media bisa mengkritisi pekerjaan tambak udang yang tidak memperhatikan fasilitas publik milik negara yaitu jalan nasional.

“Mohon dipahami kami selaku pengelola jalan adalah ‘korban’ dari kesembronoan pekerja di tambak udang,” pungkasnya.

Firmansyah

LEAVE A REPLY