OPINI

Tahan Pacaran Dulu Selagi Puasa

Penulis : Edo Juvano

Tenang, tenang. Tulisan ini bukan bertujuan menghakimi klean-klean para bucin yang biasa manfaatin waktu sesempit apa pun buat pacaran, kok. Hanya sekadar mengingatkan, bahwa waktu pacaran hadirin sekalian akan jauh lebih bermanfaat jika mengetahui baik-buruknya memadu kasih selama menjalani ibadah di bulan yang suci ini.

Pacaran di bulan puasa tahun ini sebenarnya udah ketahan sendiri sama pandemi wabah virus Covid-19 yang mengharuskan kita buat social distancing. Nongkrong sama teman-teman aja gak bisa, apalagi nge-date sama pacar. Mending, kalau pun bisa dipaksakan—secara logika, bukan sebuah anjuran untuk dilakukan—nongkrong sama teman-teman bisa ngobrol dengan jaga jarak 2 meter, pake masker, haha-hihi, terus pulang. Beda cerita kalau pacaran, apalagi buat yang gaya pacarannya gak-bisa-gak-pegangan-tangan, sia-sia dah pemerintah bikin aturan PSBB. Yang ada malah turut menyukseskan Indonesia sebagai negara terakhir yang bebas dari jeratan virus corona. Amit-amit.

Untuk mengetahui duduk perkara apakah pacaran selama bulan puasa lebih banyak maslahat atau mudaratnya, kita harus tahu apa definisi pacaran dalam Islam terlebih dahulu. Hasilnya, tidak ada. Islam tidak mengenal istilah pacaran. Mengutip dari Republika, menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Dumai, Riau Roza’i Akbar, berpacaran adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh sepasang lawan jenis yang belum mengikat janji di atas status perkawinan, namun keduanya sudah sangat dekat sehingga sangat rentan akan terjadinya zinah. Ini yang akan mengganggu jalannya ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Menurut Roza’i, pacaran meski tidak secara langsung membatalkan ibadah puasa, namun pahala dari seseorang yang tengah menjalankan puasa tanpa disadari dapat berkurang. Pacaran identik dengan remaja atau orang dalam kelompok usia yang relatif muda. Namanya darah muda yang maunya menang sendiri dan kalau salah tak peduli, ada 1001 cara yang bisa dilakukan dalam rangka mengakali situasi agar tetap bisa menunjukkan perasaan cinta walau tertahan ibadah puasa, seperti yang diutarakan oleh Roza’i.

Meminimalisir potensi dosa

Cara yang pertama adalah dengan menjaga pandangan. Dalam Islam menyebutkan secara tegas bahwa pandangan seseorang terhadap lawan jenisnya dapat membatalkan puasa karena berpotensi mempengaruhi pikiran. Bahayanya kalau pikiran tersebut lama kelamaan terus masuk dan jadi imajinasi liar ke dalam dunia khayal. Ini yang berpotenasi memunculkan nafsu birahi, apalagi buat para laki-laki.

Ungkapan orang tua “kalau pacaran berduaan doang, yang ketiga adalah setan” memang benar adanya. Makanya, mengajak serta pihak ketiga yang bukan setan sangat direkomendasikan saat bersama lawan jenis. Orang ketiga tersebut bisa jadi orang tua, saudara, atau teman sebaya. Hal sekecil ini diyakini mampu memberikan batasan secara tidak langsung terhadap sepasang kekasih agar tidak melakukan perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak berpacaran di tempat gelap atau sepi adalah hal lain yang turut mendukung poin sebelumnya. Suasana atau lingkungan yang tadi disebutkan dapat memicu hasrat atau keinginan seseorang untuk melakukan perbuatan haram termasuk perzinahan. Pengendalikan hawa nafsu untuk menahan gairah seksual juga sangat diperlukan demi menjaga kekondusifan beribadah di bulan puasa. Pelbagai upaya unik bisa dilakukan selain untuk menghindari hal yang demikian, juga untuk menghadirkan suasana baru nan positif dalam hubungan. Salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan keagamaan bersama. Karena bulan puasa diyakini sebagai lading pahala, tidak ada salahnya jika membuka keran pahala dengan tadarus bersama.

Memang dibutuhkan komitmen dari kedua belah pihak agar hubungan berpacaran tidak mengganggu jalannya pelaksanaan ibadah. Toh, ketika sepasang manusia menjalin hubungan dalam bentuk apa pun, komitmen merupakan hal yang harus dipenuhi agar tidak melanggar batasan-batasan yang tentunya tidak diinginkan.

Mengenal khitbah sebagai solusi

Seperti yang kita semua tahu, semua agama pasti mengajarkan kebaikan dan kasih saying merupakan salah satu dari bentuk kebaikan itu sendiri. Begitu pun dalam Islam, rasa saling mengasihi diwajibkan bagi satu sama lain tanpa memandang status dan latar belakang.

Menjalin hubungan, seperti yang kita definisikan sebagai berpacaran memang secara hitam di atas putih penuh dengan ungkapan perasaan kasih sayang. Akan tetapi, dalam Islam terdapat istilah ketika seorang manusia telah berkomitmen dengan lawan jenisnya dan memikirkan langkah jangka panjang ke jenjang yang lebih serius, yakni khitbah. Jika sulit untuk dimengerti, bahasa gampangnya adalah meminang.

“Ketika seorang laki-laki menaruh hati kepada seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat,” kata Roza’i.

Meski khitbah merupakan langkah serius yang lebih tinggi dibandingkan dengan pacaran yang seperti biasa kita ketahui, aturan agama tetap harus dijunjung tinggi karena kedua belah pihak belum dapat dikatakan sebagai mukhrim. Aturan-aturan tersebut seperti berduaan, menyentuh, memandang dengan nafsu, dan melakukan kegiatan suami istri. Buat para remaja tanggung, aktivitas-aktivitas seperti sexting dan juga CS/VCS juga termasuk. Jangan dikira wajar-wajar aja.

Ketika kita beranjak dewasa, mustahil rasanya kita tidak memiliki perasaan suka terhadap lawan jenis serta keinginan untuk memiliki. Tapi namanya keinginan, kan gak semua bisa diwujudkan. It’s okay to fall in love with people we can’t have, kok. Kita tetap bisa melindungi orang tersebut dari jauh alias dengan mendoakan yang terbaik untuknya.

Waduh makin ngelebar. Oke balik lagi ke soal pacaran pas puasa. Nah, pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai menaruh ambisi mendalam terhadap lawan jenisnya hingga memancing munculnya gejolak kawula muda. Disinilah khitbah berfungsi untuk menetapkan batasan-batasan dalam gejolak tersebut sehingga tidak menjadi bumerang keburukan bagi kita dan pasangan kita.

Terdapat perbedaan yang menarik antara pacaran dengan khitbah. Pacaran senantiasa diasosiasikan dengan hubungan sementara dan cenderung tidak serius. Kecuali bagi mereka yang sudah ada omongan tentang perencanaan pernikahan. Khitbah, yang tadi disebutkan artinya adalah meminang, merupakan tools yang dapat digunkan sebagai tahapan serius dari pacaran menuju ke jenjang yang lebih serius yakni pernikahan. Dalam hal ini, kedua individu juga mesti memiliki persamaan keyakinan sebagai modal utama melanjutkan hubungan antara dua insan berlainan jenis menuju ikatan perkawinan.

Menurut Roza’i, hal tersebut akan erat kaitannya dengan bagaimana orang tersebut mempraktikkannya. Balik lagi, jika selama masa khitbah kegiatan yang dilakukan antara pasangan tersebut melanggar batas-batas yang telah ditentukan Islam, maka hukumnya pun akan tetap haram.

Ya sudah, intinya kita sebagai manusia harus bisa memilah dan memilih sesuatu, mana yang lebih banyak kebaikan atau keburukan. Lagi pula, kegiatan apa juga yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan di tengah pandemi kayak gini. Kalau biasanya lau ketemuan buat jalan, antar jemput, makan bareng, tapi selama bulan puasa ini sebaiknya dibiasakan dan belajar menyadari kalau perbincangan lewat media virtual juga mengasyikkan kok. Hitung-hitung, melatih diri buat sabar sekaligus menahan buat gak ketemu langsung karena akan menambah kemungkinan lupa akan batasan-batasan kontak fisik.(**)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close